04 Desember 2011
Ekspor Nilai
31 Oktober 2011
Silaturahmi Maher Zain
Maher Zain adalah penyanyi kelahiran Tripoli Lebanon pada tanggal 16 Maret 1981. Sejak kecil Maher sudah ditumbuhkan daya musikalitasnya dari ayahnya Mustapha Maher yang juga seorang musisi. Pada usia delapan tahun, Maher Zain pindah ke Swedia dan menjadi warga negara di sana. Selama masa remaja, Maher juga terus mengasah bakat musiknya, sampai akhirnya menjadi produser musik di Swedia.
Untuk mengembangkan karir musiknya, Maher Zain akhirnya bergabung dengan perusahaan rekaman internasional RedOne. Perusahaan ini pernah bekerjasma dengan nama-nama besar seperti Akon, Lady Gaga, Enrique Iglesias dan Michael Jackson. Dalam korporasi musik yang berpusat di Newyork ini Maher juga terlibat memproduseri album debut Kat DeLuna dan ikut andil dalam kesuksesan DeLuna.
Meskipun mulai menikmati kesuksesan, Maher ternyata tidak merasa puas. Dia merasakan ada yang kurang dalam hidupnya. Bentuk ketidakpuasan itu diungkapkan dengan pernyataannya : "Saya mencintai musik tapi saya membenci segala sesuatu disekelilingnya. Selalu merasa ada sesuatu yang tidak benar." Kesadaran ini menjadi titik balik karir bermusiknya.Maher pun akhirnya meninggalkan glamournya Newyork dengan bergabung dalam perusahaan rekaman Awakening Records di Inggris. Di perusahaan inilah bernaung para penembang relijius seperti Mesut Kurtis, Irfan Makki, Hussein Zhahawy, Saad Chemmari, Nazeel Azami, Hamza Namira, Sami Yusuf dan Hamza Robertson. Bernaungnya Maher di perusahaan rekaman ini, menguatkan langkahnya untuk bernyanyi menyampaikan pesan kebajikan dan kepedulian.
Pada Januari 2009, Maher Zain meluncurkan albumnya “Thank You, Allah” dan langsung meledak di pasaran. Album ini menduduki peringkat kedua grafik album di amazon.com. Distribusi album ini menyebar ke benua Amerika, Eropa, Asia, Afrika, dan Australia. Di Malaysia album ini meraih delapan kali platinum. Di Indonesia meraih tiga kali platinum dalam waktu kurang dari dua bulan. Lagu Maher Zain juga menduduki dua teratas Ring Back Tone (RBT) di Indonesia.Menindaklanjuti keberhasilan penjualan album tersebut, perusahaan distributor rekaman bekerjasama dengan event organizer menyelenggarakan konser Maher Zain dengan tajuk “Konser Silaturahim untuk Indonesia”. Pelaksanaan konser itu dilakukan di Bandung (6 Oktober 2011), Surabaya (8 Oktober 2011) dan Jakarta (9 Oktober 2011). Sebagian dari hasil pertunjukan konser itu disumbangkan ke beberapa lembaga kemanusiaan, termasuk Dompet Dhuafa.
Perilaku Maher Zain dan perusahaan yang terkait dengannya, selayaknya menjadi panutan bagi kita semua. Para penyanyi atau seniman selayaknya menyuarakan pesan kebaikan dan kepedulian yang diiringi dengan kesediaan berbagi bagi sesama. Keindahan rasa yang diperoleh dari berkesenian dan menikmati seni sepantasnya berujung pada keindahan kehidupan yaitu kebahagiaan sesama manusia.30 Oktober 2011
PP tentang Zakat akan Dirumuskan Secara Cermat
29 Oktober 2011
Undang-Undang Zakat Diberi Catatan
28 Oktober 2011
Pemuda dan Gerakan Zakat
27 Oktober 2011
Market Day
12 Oktober 2011
Duet Produktif Ebah dan Buah Hati
10 Oktober 2011
Berguru Kepada Guru
09 Oktober 2011
Kewirausahaan Sosial Pemerintah
08 Oktober 2011
"Tuhan itu Keren Sekali"
Menanggung Beban Rakyat
Beri 1 Dapat 2
Bayi Peradaban
Mengendalikan Marah
05 Agustus 2011
Kewirausahaan Sosial, Mungkinkah ?
Sabtu (23/7), dilangsungkan acara bedah buku “Social Enterprise ; Transformasi Dompet Dhuafa Menjadi World Class Organization” karya Ahmad Juwaini yang menjadi rangkaian acara Jogja Muslim Fair (20-26 Juli 2011) bertempat di halaman Gedung Wanitatama Yogyakarta. Dalam kesempatan tersebut hadir pembicara-pembicara yang ahli dibidangnya seperti, Dr. Lathiful Khuluq (Dosen UIN Suka Yogyakarta), Ahmad Paryanto (Direktur Dompet Dhuafa Jogja), Romy Heriyanto (LSM Rifka Annisa), Achmad Luthfie (KR Peduli) dan dimoderatori oleh saya sendiri, Edo Segara.
Wacana social enterprise, tergolong baru di Indonesia meski sudah didiskusikan 40 tahun lamanya dikalangan pekerja sosial. Banyak orang menganggap social enterprise merupakan gabungan bisnis dan sosial. Dr. Lathiful Khuluq menilai istilah tersebut keliru, ia mengatakan social enterprise lebih tepat dengan definisi kewirausahaan sosial. Social enterprise merupakan kerja-kerja sosial yang dikelola secara professional seperti bisnis oleh sebuah organiasasi dan keuntungannya digunakan lagi untuk pemberdayaan masyarakat, tambahnya. Lathiful mencontohkan sebuah bisnis di Bangladesh, Grameen Bank yang dicetuskan oleh Muhammad Yunus. Grameen Bank merupakan contoh nyata social enterprise, dimana konsep memodali masyarakat miskin tanpa collateral (jaminan) untuk menstimulus usaha-usaha mereka dan berhasil.
Ahmad Paryanto, yang menggantikan Ahmad Zuwaini karena berhalangan hadir, lebih banyak memaparkan kiprah Dompet Dhuafa yang sejauh ini cukup berhasil menjadi world class organization. DD berhasil menciptakan unit-unit lembaga lain seperti Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC), Sekolah Gratis Smart Ekselensia, Tebar Hewan Kurban (TKC), ratusan BMT, DD Travel, DD Water, Lembaga Pertanian Sehat dll. Di tahun 2010 sendiri, DD berhasil mengumpulkan dana ZIS sebesar 100 miliar, sungguh prestasi yang cukup membanggakan ungkapnya. Tapi kami tidak boleh jumawa, karena kepercayaan yang begitu besar dari masyarakat, maka kami harus mengelolanya agar lebih manfaat untuk umat, tambahnya.
Romy Heryanto yang memiliki spesialisasi pendampingan wirausaha di LSM Rifka Annisa menilai, bisnis yang melakukan kegiatan sosial dengan pekerjaan sosial yang dikelola seperti bisnis memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Bisnis yang diselipkan dengan kegiatan social, kita banyak mendengar dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR). Sedangkan pekerjaan sosial yang dikelola secara bisnis professional, ini yang bisa dikatakan dengan sebutan social enterprise.
Achmad Luthfie, yang juga merupakan Wakil Pimpinan Redaksi SKH Kedaulatan Rakyat mengatakan keberhasilan DD tidak lepas dari peran Republika yang membidani Dompet Dhuafa melalui orang-orang seperti Parni Hadi, Haidar Bagir, Erie Sudewo dan S. Sinansari Ecip. Luthfie mengatakan, tidak banyak lembaga sosial seperti DD yang memiliki media. Dengan adanya media seperti Republika, DD bisa lebih mudah memberikan laporannya kepada masyarakat secara akuntabel. Karena lembaga sosial adalah lembaga yang dipercaya menyalurkan dana-dana kaum aghniya (mampu) ke masyarakat yang kurang mampu. Acara ini pun diakhiri dengan Tanya-jawab dan pembagian doorprizes 3 buku “Social Enterprise”. []
Sumber tulisan : http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2011/07/25/kewirausahaan-sosial-mungkinkah/
02 Agustus 2011
Testimoni Rikubotsu Erga Wigiant
(testimoni untuk buku Social Enterprise)
24 Juli 2011
Buku Laris !!!
Terima kasih kepada semua yang telah membeli buku Social Enterprise semoga bermanfaat dan memberi dampak untuk terus memperbaiki masa depan. Bagi yang sudah membacanya, kami persilakan untuk memberikan tanggapan, apresiasi atau komentar tentang isi buku tersebut, baik melalui website ini, atau melalui akun facebook saya (Ahmad Juwaini Full) atau melalui akun twitter saya : @ahmadjuwaini.
Untuk yang belum membeli buku tersebut, buruan yah segera membelinya, sebelum kehabisan (he..he..he..)
Terima kasih untuk semua.
Salam Hormat
Ahmad Juwaini
17 Juli 2011
Testimoni dari Yani Cahaya melalui Facebook
01 Juli 2011
Social Enterprise : Sukses Nyata Dompet Dhuafa
“Sikap peduli adalah sebuah nilai dasar dan sikap untuk memerhatikan dan bertindak proaktif terhadap kondisi-kondisi atau keadaan yang sedang terjadi di sekitar kita.” Secarik amanah berfaedah ini tertulis dalam buku baru karya Ahmad Juwaini bertajuk
Social Enterprise (Transformasi Dompet Dhuafa Menjadi World Class Organization), yang diluncurkan beberapa waktu lalu.
Buku ini lebih memaparkan tentang kisah sukses perjalanan lembaga amil zakat Dompet Dhuafa selama kurun delapan belas tahun berdiri. Disinilah Ahmad coba memaparkan ajakan kepada publik untuk mari beramal untuk membantu sesama.
“Salah satu program sukses Dompet Dhuafa adalah pelayanan kesehatan gratis dan qur’ban sejak tahun 1994,” ujarnya.
Bermisikan menselaraskan kehidupan umat adalah sebuah niatan yang mulia, akan tetapi banyak pihak yang tentu harus akan terlibat. Social Enterprise sebenarnya coba mengayom bahwa sudah saatnya masyarakat kita berniat maju meningkatkan produktifitas dan manfaat ekonominya, dengan membangun pondasi kewirausahaan sosial.
Ini sebuah ajakan yang cukup bijak agar masyarakat kita semakin kuat kedudukan produktifitas ekonominya dengan manfaat yang lebih baik. Semakin kuat kedudukannya, maka bangsa pun juga semakin kuat tatanan ekonominya.
Gali Produktifitas Umat
Dompet Dhuafa adalah sebuah pemahaman akan manfaat serta menggali produktifitas umat yang sebenarnya. Kepedulian untuk membantu sesama selalu menjadi prioritas utama bagi lembaga amil zakat ini. Terbukti dengan semakin banyaknya jumlah donatur dompet dhuafa saat ini, hingga mencapai angka 55.000 donatur dalam skala nasional.
Bisnis kewirausahaan sosial yang di terapkan dompet dhuafa juga bukanlah semata mata untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan, namun perlu adanya penyelaggaraan perbaikan kesejahteraan umat dengan menyeluruh.
Komitmen dan konsistensinya adalah dengan terus melakukan terobosan dan pengembangan yang dilakukan dompet dhuafa, telah memboyongnya menjadi World Class Organization. Sekali lagi, sebuah pengakuan dunia dicapai sebagai lembaga social enteprise, pencapaian prestasi yang tak mudah didapat.
Ada yang menarik di buku ini, yaitu sampul buku yang memajang foto Ahmad menggenjot becak. Kenapa mesti memilih foto sampul ini? Jawabnya begini: “Para penarik becak itu adalah para pejuang yang tak lelah mengayuh pedal, baik itu jalannya nanjak atau turun. Inilah sebuah ilustrasi nyata bahwa mereka berjuang mengarungi hidup dengan ketekunan dan semangat yang tinggi meski kehidupan mereka masih relatif jauh dibawah standar,” papar Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa Republika itu. - (L. Herlambang)
Sumber : www.fokuskini.com/2011/06/%E2%80%9Csocial-enterprise%E2%80%9D-sukses-nyata-dompet-dhuafa/



